Jakarta Dikudeta, Kecerdasan dan Kreativitas Citayam Meruntuhkan Keangkuhan dan Kemegahan Metropolitan

Minggu, 24 Juli 2022 | 13:45

DRIDVIDEO.ID - Jakarta telah "dikudeta" oleh keberanian, kecerdasan dan kreativitas sekelompok anak muda dari Citayam, Bojonggede, dan Depok, dengan revolusi Citayam Fashion Week.

Aksi kebudayaan anak-anak muda yang justru sering luput dari perhatian dan panggung-panggung mainstream, lalu membangun panggungnya sendiri di tengah hegemoni kebudayaan Metropolitan.

Mereka tak butuh formalitas atau cat walk papan atas.

Tak perlu pula anggaran milyaran atau fasilitas kekuasaan.

Mereka juga tak peduli soal kemewahan, karena bagi mereka keindahan datang dari kecerdasan, kreativitas, dan kejujuran.

Bukankah kebesarn cuan, kemewahan, dan kekuasaan adalah wajah Jakarta yang menjadikan dirinya seolah menara gading dan kiblat kehidupan?

Namun, semua itu telah diruntuhkan oleh sekelompok anak muda yang kreatif dan cerdas dari Citayam, Bojonggede, dan Depok, wilayah pinggiran dari ingar-bingar Jakarta.

Segala standar motropolitan dilengserkan.

Mereka bermodalkan keberanian berekspresi, kecerdasan, kejujuran, dan kreativitas pinggiran yang sederhana, namun menjadi senjata tajam yang menggoyang kebudayaan, keangkuhan uang dan kekuasaan.

Mereka bukan para sultan yang bisa pamer Ferrari dan ikat rambut yang berharga jutaan atau tas milyaran.

Mereka tak membawa brand besar seperti Gucci, Louis Vuitton, Cartier, Tiffany & Co, Chanel, Hermes, dan sebagainya.

Mereka hanya membawa brand "CITAYAM", dan brand itu telah menjadi local intelligence, kecerdasan lokal yang menampar keangkuhan brand global.

Seolah, sekelompok anak muda Citayam itu telah melakukan proklamasi di pusat kekuasaan dan kemegahan Jakarta, "Inilah Republik Citayam yang bangga atas karya dan kecerdasan negeri sendiri!"

Dan, mereka lebih membanggakan daripada sekelompok orang dengan dana besar yang menumpang nama fashion week di negeri seberang.

No Paris, No London, No Milan. This is Citayam Washion Week.

Ruang publik di Dukuh Atas, Jakarta Pusat, langsung diduduki, lalu mereka mengekspresikan kecerdasan dan kreativitas dalam aksi fashion show dan berbagai adegan hingga menjadi brand besar: Citayam Fashion Week.

Tiba-tiba mereka menguasai isu dan wacana, meruntuhkan keangkuhan kekuasaan, kemewahan, dan kebesaran cuan para cukong, sultan dan para penghamba kekuasaan.

Dan lihat, siapa yang lebih sukses menyampaikan pesan, meresonasi keindahan, menginspirasi kreativitas dan kecerdasan, serta membangun wacarana penuh warna?

Mereka tak butuh pamflet atau baliho, buzzer, iklan, kampanye berbusa-busa yang mengancam keutuhan bangsa, atau rekayasa penuh taktik dan tipu daya.

Sekelompok pemuda Citayam, Depok, dan Bojonggede ini hanya membawa kejujuran, kecerdasan, dan kreativitas lepas.

Brand SCBD atau Sudirman Central Business District yang dirancang sedemikian megah, dana besar, dengan tujuan begitu megah sebagai pusat bisnis, tiba-tiba direbut oleh geng Citayam.

SCBD kini justru dikenal sebagai Sudirman, Citayam, Bojonggede, dan Depok.

Puja-puji pun berdatangan, seolah tepuk tangan sebagai apresiasi, riuh-rendah datang dari segala penjuru negeri.

Bahkan, Presiden Joko Widodo (Jokowi) juga memberi apresiasi.

"Asalkan positif, saya kira enggak ada masalah. Jangan diramaikanlah, hal-hal yang positif itu diberikan dukungan dan didorong. Asal tidak menabrak aturan," tegas Presiden Jokowi seusai memperingati Hari Anak nasional di Kebun Raya Bogor, Sabtu (23/7/2022).

Tak hanya itu, pemerhati dan Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI), Seto Mulyardi, juga memberi apresiasi.

"Kami lihat adik-adik dan anak-anak yang penuh dengan potensi dan kreativitas, penuh dengan ide-ide cemerlang. Adik-adik bisa mengguncang Indonesia dengan kreativitas, khususnya fashion. Pada dasarnya adik-adik adalah calon pemimpin bangsa di masa depan yang penuh dengan kreativitas," puji Seto Mulyadi.

Datang dari pinggiran, mereka tak hanya mengambil ruang publik di Dukuh Atas, Jakarta Pusat.

Tapi, remaja-remajan asal Citayam, Bojonggede, dan Depok itu telah "mengkudeta" wacana di Jakarta.

Mereka telah menguasai panggung isu dan pesan, bahkan kebudayaan.

Mereka telah menggeser segala kemegahan dan kemewahan yang bersifat METROPOLITAN, menjadi kejujuran, kecerdasan dan kreativitas ala CITAYAM.

Editor : Hery Prasetyo

Baca Lainnya